Buku ini bukan sebuah panduan produktivitas klinis yang kaku, bukan pula jurnal medis yang penuh dengan istilah-istilah rumit yang membuat kepala pening. Buku ini adalah ruang aman. Sebuah pelukan hangat dalam bentuk kata-kata untuk siapa saja yang pernah merasakan tubuhnya “lumpuh” saat menatap tumpukan piring kotor di wastafel, atau bagi mereka yang merasa bersalah karena menunda membalas pesan penting selama berminggu-minggu.
Jika Anda sering bertanya-tanya mengapa hal-hal yang terlihat begitu mudah bagi orang lain terasa sangat melelahkan dan mustahil bagi Anda, ketahuilah satu hal sebelum melangkah lebih jauh:
Disfungsi eksekutif adalah musuh tak kasat mata yang sering kali memicu perang batin paling melelahkan. Dan saya menulis kalimat ini bukan dari jarak seorang pengamat, melainkan dari tengah badai itu sendiri. Saya juga hidup dengan disfungsi eksekutif. Saya tahu persis bagaimana rasanya menatap tumpukan piring kotor selama berminggu-minggu, menunda surel penting hingga tenggat waktu berlalu, atau merasa lumpuh di depan laptop yang menyala sementara daftar tugas terus memanjang. Buku ini lahir dari perjuangan itu—dari kegagalan-kegagalan yang saya alami, dari malam-malam yang dipenuhi rasa bersalah, dan dari perlahan menemukan cara untuk berdamai dengan cara kerja otak saya yang tidak linear.
Melalui lembaran-lembaran buku ini, kita akan menjelajahi apa yang sebenarnya terjadi di dalam kepala kita, mengurai benang kusut rasa bersalah, dan belajar membangun jembatan-jembatan kecil untuk berdamai dengan cara kerja otak kita yang unik. Buku ini adalah bagian dari upaya saya untuk memperbaiki diri sendiri—dan semoga, juga menjadi pelukan kecil bagi Anda yang sedang berjuang dengan hal yang serupa.
Buku ini adalah undangan untuk merayakan setiap langkah kecil, keberanian untuk melakukan sesuatu meskipun tidak sempurna, dan pada akhirnya, merangkul belas kasih radikal kepada diri kita sendiri.
Selamat membaca. Mari kita menembus dinding tak kasat mata ini bersama-sama.